Category Archive Pena Guru

ByYayasan Albanna

Pengumuman Hasil Seleksi SD tahun 2019-2020

Assalamualaikum

Berikut pengumuman hasil seleksi calon peserta didik baru SD IT Albanna tahun ajaran 2019-2020.

ByHumas

Refleksi Guru : Cermin Terbaik Untuk Sang Anak

“Aku bukan seorang Guru, hanya sesama musafir yang kau tanyai arah, Aku menujuk ke arah depan — ke depan diriku sendiri dan ke depan dirimu.”

– George Bernard Shaw

Jika guru adalah hasrat, pola pemikiran, kebutuhan, minat, antusiasme, kebahagiaan, atau gaya hidup seseorang, maka guru sejatinya bukanlah sebuah profesi belaka, akan tetapi merupakan keniscayaan dan jati diri setiap manusia. Karena siapapun profilnya, apapun profesinya, dan dimanapun keberadaanya, setiap orang berakal adalah guru bagi dirinya pribadi maupun keluarga. Mengutip dari perkataan George B. Shaw di atas, maka makna guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi yang utama adalah belajar untuk diri sendiri. Murid adalah investasi masa depan, bukan produk yang terbentuk seketika saat pembelajaran saja, akan tetapi berkembang waktu demi waktu hingga menjadi seorang yang Al insan Al kamil . Maka kesuksesan pembimbingan yang berkelanjutan ini dapat diukur dari pribadi pembimbing atau gurunya.

Sebuah proses pembelajaran bukan hanya apa yang dilakukan di dalam kelas ketika sang guru “memberi materi” namun juga dalam proses hidup keseharian.  Apakah sang guru adalah seorang guru di sekolah, orang tua, tetangga, atau tokoh agama ataukah seseorang yang dijadikan idola. Maka, sangat relevan dan logically manusia belajar dari orang-orang yang berinteraksi intens dengannya atau terinspirasi dari orang-orang tertentu yang ia idolakan.

Dalam sebuah film berjudul ‘KARATE KID”, salah satu kalimat dari Mr. Han aka Jacky Chan pada saat menolong Dre aka Jaden Smith, dia mengatakan “there are no bad students only bad teachers”. Jika kita artikan secara bahasa, maka akan berbunyi “tidak ada yang namanya murid buruk/jahat, tapi hanya ada guru yang buruk/jahat”. Representasi kata “buruk/jahat” ini tidak hanya seperti kejahatan kriminal akan tetapi lebih kepada sifat dan karakter.

Seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu saja kepada muridnya. Akan tetapi sifat dan karakter yang dimiliki guru juga. Sehingga bisa dikatakan murid adalah cerminan gurunya. Entah guru itu adalah orang tuanya, gurunya di sekolah, dosennya di kampus ataukah pembimbingnya dalam hal kerohanian keagamaan. Mungkin bisa jadi bukan sebuah cermin utuh karena setiap manusia itu tentunya punya karakter masing-masing nan unik. Namun gambaran besar itu akan tetap ada. Bagaimana kita bisa mengetahuinya? Lihatlah ke dalam diri kita sendiri dan lihatlah juga pada guru kita itu maka kita akan menemukan kemiripannya.

Jika  kita menengok sekilas sirah nabawiy, kehidupan Rosululloh SAW kepada para Sahabat Beliau. Rosulullah tak hanya mengajarkan tentang iman, atau dogma agama saja kepada para Sahabat. Mereka justru belajar langsung dari kehidupan gurunya, Sang Rosul. Mereka melihat bagaimana Rosulullah SAW hidup dan bersikap pada orang lain. Bagaimana kasih itu mengalir dengan nyata dan bagaimana Beliau memilih untuk berjalan dalam kebenaran, kesabaran, dan akhlak yang Ia ajarkan di tengah-tengah kaum kafir Quraisy yang menentang dengan keras. Nabi Muhammad SAW bukanlah guru yang hanya mengatakan sesuatu tapi tak melakukannya. Rosulullah hadir untuk memperbaiki al akhlaqu al karimah. Dan memperbaiki akhlak hanyalah dengan memberi teladan.

Maka timbulah pertanyaan untuk diri kita, Sudahkah kita mengakui bahwa guru kita Rosul Muhammad SAW? Jika iya, sudahkah kita melihat kedekatan karakter dan pola hidup kita seperti Beliau? Karena kitalah para guru dan orangtua jembatan paling dekat dari ilmu Rosulullah kepada anak didik kita. Bagaimana mereka tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan Allah dan RosulNya adalah cerminan dari para guru, orang tua dan idolanya yang beriman dan bertakwa.

Mari doakan para anak didik kita, selepas mereka naik ke jenjang-jenjang berikutnya, ketika kita sudah tidak lagi berinteraksi langsung dengan mereka, doa yang terbaik, doa yang selalu terlantun dalam setiap munajat kita. Karena hati Rosulullah selalu terpaut dengan para Sahabatnya dimanapun mereka berada. Begitupun hati kita, akan selalu terpaut dengan anak didik kita melalui perantara ketakwaan kepada Allohu Al Kariim.(hby)

“……yang paling hebat dari seorang guru, adalah medidik. Dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar.”

KH. Maimun Zubair