• (0361) 236 444 | 0818 418 444
  • info@albanna.sch.id
  • Jl. Tukad Yeh Ho III No.16, Dauh Puri Klod, Kec. Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali 80234
  • News

    5 Mitos dan Fakta Keamanan Internet bagi Anak

    Jadikan hubungan antara anak dan internet menjadi sesuatu yang positif dan produktif dengan mengetahui fakta (dan kritis terhadap rumor) terkait keamanan internet bagi anak.
    Jika Anda mempercayai semua hal terkait anak yang Anda dengar dari dunia maya, maka mungkin Anda akan percaya bahwa pedofil, pelaku cyberbully, dan penjahat-penjahat lainnya ada di setiap sudut dunia maya.
    Benar, ada hal-hal tidak baik di dunia maya. Namun faktanya, masih ada banyak hal positif di dunia maya dan sejumlah ahli menentang “techno-panic mindset”, yaitu mindset atau pola pikir orang tua yang terlalu khawatir secara berlebihan.
    Yang perlu digarisbawahi adalah kita tidak bisa menjaga keamanan anak kita jika kita tidak mengetahui faktanya.
    Berikut lima mitos terkait keamanan internet—beserta fakta sesungguhnya—yang akan membuat Anda lebih tenang.

    Mitos #1
    Media Sosial Mengubah Anak Menjadi Pelaku Cyberbullying.
    Fakta
    Ada banyak sebab yang membuat anak menjadi pelaku cyberbullying. Media sosial hanya berperan kecil dalam hal ini.
    Fakta menunjukkan, anak-anak yang melakukan tindakan cyberbullying mempunyai masalah yang memaksa mereka berbuat demikian. Anak-anak ini bisa jadi memiliki masalah di rumah, di sekolah, atau di lingkungan sosial. Mereka juga mungkin melakukan bullying di kehidupan sehari-hari atau bahkan memiliki rasa empati yang kurang berkembang.
    Dengan menyadari adanya cyberbullying (meskipun bukan berarti membiarkan tindakan tersebut), para orang tua dan guru bisa mengenali tanda-tanda cyberbullying serta mencegah tindakan tersebut berkembang lebih jauh.

    Mitos #2
    Mengajarkan anak untuk tidak berbicara dengan orang asing adalah cara terbaik menjaga keamanan anak di dunia maya.
    Fakta
    Mendidik anak untuk mengenali perilaku berbahaya akan membuat anak terhindar dari tindakan yang tidak diinginkan.
    Di jaman sekarang ini, dimana anak berusia 8 tahun bisa berinteraksi dengan orang lain di dunia maya, anak-anak perlu mengenal batasan antara percakapan yang patut dan tidak patut. Anak-anak kadang dipaksa oleh teman mereka sendiri untuk berbicara masalah yang berbau seksual. Maka, anak-anak perlu diberitahu bahwa tidak apa-apa untuk menolak percakapan seperti itu. Jangan hanya ajarkan tentang “bahaya orang asing”, namun ajarkan jenis pertanyaan seperti apa yang tergolong tidak patut ditanyakan orang lain (misalnya: Kamu perempuan atau laki-laki? Kamu tinggal di mana? Kamu sedang pakai baju apa?)
    Juga, ajarkan anak untuk tidak mencari sensasi di dunia maya. Hubungan di dunia maya yang beresiko biasanya terjadi lewat chat dimana remaja mencari atau terlibat dalam percakapan yang berbau seksual.

    Mitos #3
    Media Sosial Membuat Anak Terkucil
    Fakta
    Kebanyakan anak mengatakan bahwa media sosial memperkuat hubungan mereka dengan teman.
    Menurut Pew Research Internet Project:
    ● 57 persen remaja belasan tahun menemukan teman baru di dunia maya
    ● 84 persen anak laki-laki yang bermain game online bersama teman mereka lebih merasa terhubung ketika di dunia maya
    ● 68 persen pengguna media sosial berusia belasan tahun mendapatkan dukungan dari teman mereka di dunia maya ketika mereka menghadapi masa-masa sulit dalam hidup mereka. Kebanyakan anak-anak ingin bersenang-senang, bergaul, dan bersosialisasi secara normal di dunia maya. Dan faktanya seperti itulah yang dilakukan kebanyakan anak-anak.
    Selain itu, bagaimana dengan anak-anak yang menentang cyberbullying dan menggunakan internet untuk gerakan sosial yang positif? Semakin banyak anak yang menggunakan kekuatan internet untuk hal positif dan seiring berjalannya waktu, mitos-mitos negatif yang ada mulai terkikis.

    Mitos #4
    Menampilkan foto anak di dunia maya adalah hal berbahaya
    Fakta
    Jika Anda menggunakan pengaturan privasi, membatasi siapa saja yang bisa melihat foto tersebut, serta tidak menampilkan identitas anak Anda, maka hal tersebut cukup aman. Meskipun memang benar bahwa memposting sesuatu di dunia maya mengundang beberapa resiko, namun ada beberapa cara agar Anda bisa memperkecil resiko tersebut.
    1. Pengaturan privasi
    2. Batasi siapa saja yang bisa melihat postingan Anda.
    3. Jangan asal posting foto anak Anda di media sosial.
    ● Pengaturan privasi
    Pastikan hanya orang-orang terdekat Anda yang bisa melihat postingan Anda.
    ● Batasi siapa saja yang bisa melihat postingan Anda
    Bagikan postingan Anda hanya kepada keluarga dan teman dekat Anda saja. Atau, gunakan situs berbagi foto seperti Picasa atau Flickr yang mengharuskan penggunanya log in untuk melihat foto.
    ● Jangan asal posting foto anak Anda di media sosial
    Patuhi aturan untuk menjauhkan anak di bawah 13 tahun dari media sosial. Saat anak Anda memiliki profil media sosial, mereka bisa ditandai dalam berbagai foto yang mana hal ini memperpanjang jejak anak Anda di dunia maya. Jika Anda akan mengunggah foto anak-anak Anda, maka jangan tampilkan identitas mereka serta jangan tandai (tag) mereka. Dengan begitu foto tersebut tidak bisa dilacak hingga identitas anak Anda dapat diketahui oleh orang lain.

    Mitos #5
    Parental Control adalah alat terbaik untuk memantau kegiatan anak di dunia maya
    Fakta
    Berfokus hanya pada satu metode keamanan internet membuat Anda tidak mengerti arti keamanan yang sesungguhnya. Dibutuhkan lebih dari sekedar Parental Control untuk menjaga keamanan anak Anda serta menjadikan mereka pengguna internet yang bertanggung jawab serta menghargai orang lain.
    Pertama, Parental Control bisa dibobol anak yang mempunyai niat untuk membobolnya.
    Kedua, Parental Control memiliki banyak filter, membuat pencarian internet menjadi tidak berguna serta memicu timbulnya kesan “orang tua vs anak” yang justru bisa menjadi bumerang bagi orang tua.
    Tentu saja, Anda bisa gunakan Parental Control untuk mencegah munculnya konten yang tidak sesuai untuk usia tertentu serta untuk mengatur batasan waktu penggunaan internet.
    Namun, bukan berarti tugas Anda selesai. Ajak anak Anda untuk berdiskusi mengenai perilaku di dunia maya yang bertanggung jawab serta menghormati orang lain.
    Tentukan aturan dan konsekuensi apabila anak Anda berbuat yang tidak patut di dunia maya serta latih anak untuk bijak dalam mengatur penggunaan internet.

    Sumber: @PendidikanAbad21

    Leave a comment